Pertanian Indonesia Naik Level! Teknologi Presisi dan Mekanisasi Jadi Senjata Baru Menuju Swasembada
RILIS BPPSDMP – 04 Agustus 2026 (HUMAS/873)
Bogor – Pertanian Indonesia tengah memasuki era baru. Pemanfaatan teknologi presisi dan mekanisasi modern menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing sektor pertanian. Hal tersebut mengemuka dalam Millennial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 31 yang diselenggarakan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Sabtu (1/8/2026) dengan mengangkat tema “Precision Agriculture: Transformasi Mekanisasi Pertanian Menuju Swasembada Pangan”.
Forum yang menjadi ruang diskusi bagi generasi muda pertanian ini membahas pentingnya penguasaan teknologi presisi dan mekanisasi dalam menghadapi tantangan pertanian masa depan. Melalui MAF, peserta diajak memahami bahwa transformasi pertanian tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, adaptif, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatannya di lapangan.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi penyelenggaraan MAF sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi pertanian melalui inovasi dan teknologi. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong terwujudnya pertanian modern dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Teknologi terapan adalah kunci kebangkitan pertanian Indonesia. Brigade Pangan menjadi ujung tombak di lapangan, dan generasi milenial harus berada di depan dalam menguasai inovasi. Pemerintah terus mendukung pengembangan alat, mekanisasi, dan teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Amran.
Ia menambahkan, forum diskusi seperti MAF perlu terus dikembangkan dan diperluas karena dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus berbagi pengalaman mengenai berbagai solusi yang dibutuhkan petani. Dengan demikian, adopsi teknologi di sektor pertanian diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan tepat sasaran.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM pertanian.
“Ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi pada manusia yang mengoperasikan dan memanfaatkannya. SDM pertanian harus adaptif, kreatif, dan mampu menerapkan teknologi secara efektif. Melalui forum seperti ini, Polbangtan membuktikan komitmennya dalam melahirkan SDM unggul yang siap menghadapi tantangan sektor pangan,” ujar Idha.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, mengajak generasi muda pertanian untuk tidak berhenti belajar dan terus memperbarui pengetahuan. Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut insan pertanian untuk senantiasa meningkatkan kompetensi agar mampu memberikan solusi nyata bagi petani.
“Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan. Kita harus terus belajar tanpa batas, terus mencari dan menggali berbagai informasi yang dapat menjadi referensi bagi petani, kelompok tani, maupun Brigade Pangan,” ungkap Muhammad Amin.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguatan kapasitas SDM merupakan fondasi utama dalam menghadapi transformasi pertanian berbasis teknologi.
Menurutnya, melalui MAF, Polbangtan Bogor tidak hanya menghadirkan ruang diskusi, tetapi juga mendorong terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara akademisi, dunia industri, dan praktisi pertanian. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya generasi muda pertanian yang inovatif, adaptif, dan siap mengakselerasi penerapan mekanisasi serta pertanian presisi di Indonesia.
Menariknya, forum ini menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang yang memberikan perspektif berbeda mengenai masa depan pertanian berbasis teknologi.
Bayu Taruna Widjaja Putra, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, memaparkan perkembangan precision agriculture sebagai pendekatan berbasis teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
Sementara itu, Agung Pratikto, SEA Area Manager FJ Dynamics, memperkenalkan berbagai inovasi mekanisasi pertanian modern yang mendukung penerapan pertanian presisi. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu petani melakukan pekerjaan secara lebih akurat, efisien, dan produktif.
Dari sisi praktik di lapangan, Didik Purwadi Nugroho, Direktur UPJA Taju Jawa, Klaten, Jawa Tengah, membagikan pengalaman penerapan mekanisasi pertanian melalui kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA). Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan alat dan mesin pertanian secara kelembagaan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas usaha tani.
Diskusi berlangsung interaktif dengan Aminudin, Wakil Direktur II Polbangtan Bogor, sebagai moderator. Suasana forum semakin dinamis dengan kehadiran Cahaya dan Facri sebagai host yang memandu jalannya diskusi sekaligus menjembatani interaksi antara narasumber dan peserta.
Kegiatan diikuti peserta secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube Polbangtan Bogor Official. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda dan insan pertanian terhadap perkembangan teknologi yang dapat diterapkan untuk menjawab tantangan sektor pertanian masa depan.
Rangkaian MAF Vol. 7 Edisi 31 ditutup dengan closing statement Kepala Pusat Pendidikan Pertanian. Penyelenggaraan forum secara berkelanjutan menjadi bukti komitmen Polbangtan Bogor dalam memperkuat kapasitas SDM pertanian sekaligus membangun ruang kolaborasi antara dunia pendidikan, akademisi, industri, dan praktisi.
Di tengah tuntutan peningkatan produktivitas dan percepatan swasembada pangan, precision agriculture bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari masa depan pertanian Indonesia. Dengan SDM yang unggul dan penguasaan teknologi yang semakin kuat, transformasi pertanian diharapkan mampu membawa Indonesia menuju pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berdaya saing.
Attachment
No attachments available.
Comments