MAF Volume 7 Edisi 41, Polbangtan Bogor Bahas Inovasi dan Adopsi Teknologi PM-AAS
BOGOR — Modernisasi pertanian tidak cukup hanya dengan menghadirkan alat dan mesin canggih. Ketepatan teknik budidaya, efisiensi penggunaan sarana produksi, serta pendampingan kepada petani menjadi faktor penting agar teknologi memberikan manfaat nyata bagi produktivitas usaha tani. Pendekatan tersebut menjadi fokus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor dalam mendorong penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Upaya mempercepat adopsi teknologi pertanian presisi itu dibahas dalam webinar Milenial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 41, Sabtu (10/10/2026), bertema “Mewujudkan Pertanian Presisi Masa Depan: Sinergi Inovasi, Fasilitasi, dan Adopsi Teknologi Advanced Agriculture System (PM-AAS)”.
Forum ini menghadirkan Kepala BRMP Jawa Barat Detia Tri Yunandar, Penyuluh Pertanian Kota Tasikmalaya Asep Jajang Sidik, serta petani asal Tasikmalaya Agus Cahyadi. Ketiganya membahas penerapan teknologi dari sisi pengembangan inovasi, pendampingan, hingga pengalaman petani dalam mengadopsinya di lapangan.
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian ialah sistem tanam benih langsung (direct seeding), termasuk penggunaan alat tanam drum seeder. Teknologi ini mendukung upaya meningkatkan efisiensi penanaman, mengatur jarak tanam, dan mengoptimalkan penggunaan sarana produksi.
Kepala BRMP Jawa Barat Detia Tri Yunandar menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan pendekatan pertanian modern yang menekankan efisiensi, mekanisasi, presisi, dan pemanfaatan teknologi dalam proses budidaya. Penerapannya tidak sekadar menggunakan alat dan mesin pertanian, tetapi juga menyesuaikan teknologi dengan kondisi lahan serta kebutuhan petani.
Pendekatan tersebut menempatkan kesesuaian teknologi sebagai bagian penting dari proses produksi. Peralatan modern perlu digunakan berdasarkan kebutuhan dan kondisi usaha tani agar manfaatnya dapat dioptimalkan, sementara kesiapan sarana produksi dan kemampuan operator tetap menjadi faktor penentu keberhasilan penerapan.
Dari sisi penyuluhan, Asep Jajang Sidik menekankan pentingnya demonstrasi plot atau demplot sebagai sarana memperkenalkan teknologi kepada petani. Melalui metode ini, petani dapat melihat langsung cara kerja inovasi, mencoba penerapannya, dan membandingkan hasil sebelum memutuskan menggunakannya dalam usaha tani.
Pendekatan berbasis praktik tersebut membantu petani menilai manfaat teknologi berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Dengan demikian, keputusan untuk mengadopsi inovasi tidak hanya bertumpu pada informasi, tetapi juga pada pengalaman dan bukti yang dapat diamati secara langsung.
Pengalaman Agus Cahyadi, petani asal Kota Tasikmalaya, turut memperlihatkan pentingnya proses tersebut. Adopsi teknologi dimulai dari memperoleh informasi dan mempertimbangkan manfaat, dilanjutkan dengan percobaan melalui demplot, hingga penerapannya dalam kegiatan usaha tani.
Dukungan benih unggul dan alat tanam drum seeder menjadi bagian dari proses itu. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penerapan teknologi membutuhkan sinergi antara akses informasi, fasilitasi sarana, pendampingan, dan kesempatan bagi petani untuk menguji manfaat inovasi sesuai kondisi lahannya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya modernisasi pertanian melalui mekanisasi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi. Penguatan teknologi menjadi salah satu langkah untuk memperkokoh ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian. Kompetensi petani, penyuluh, dan generasi muda perlu diperkuat agar inovasi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan produksi, bukan berhenti pada pengenalan teknologi semata.
Perguruan tinggi juga memiliki peran dalam mempercepat proses adopsi tersebut. Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Muhammad Amin menyoroti kontribusi perguruan tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen dan mahasiswa diharapkan menjadi penghubung antara inovasi yang dikembangkan dan kebutuhan nyata petani.
Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto menegaskan bahwa Milenial Agriculture Forum menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mempertemukan lembaga pendidikan, peneliti, penyuluh, petani, serta generasi muda pertanian. Kolaborasi ini penting agar teknologi dapat dipahami, diuji, dan diterapkan sesuai kondisi di lapangan.
Mahasiswa juga diharapkan tidak hanya menguasai teori, tetapi mampu terlibat dalam pendampingan petani dan pengembangan inovasi yang memberikan manfaat nyata. Peran tersebut memperkuat fungsi pendidikan vokasi dalam menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan sektor pertanian.
Melalui MAF Volume 7 Edisi 41, Polbangtan Bogor mendorong percepatan adopsi PM-AAS dengan memperkuat sinergi pendidikan, penelitian, penyuluhan, dan praktik usaha tani. Petani ditempatkan sebagai bagian utama dalam proses transformasi, mulai dari mengenal teknologi, menguji manfaatnya, hingga menentukan penerapannya dalam kegiatan produksi.
Keberhasilan pertanian presisi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan peralatan, tetapi juga oleh kesesuaian teknologi, kompetensi sumber daya manusia, dan keberlanjutan pendampingan. Dengan sinergi tersebut, penerapan PM-AAS diharapkan dapat mendukung efisiensi usaha tani, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Attachment
No attachments available.
Comments