Logo Kementan BPPSDMP

News

Dari Lahan Terbengkalai, Mahasiswa Polbangtan Bogor Bangun Berkah Farm

Dari Lahan Terbengkalai, Mahasiswa Polbangtan Bogor Bangun Berkah Farm

Bagi Hasan Javier Risky atau yang biasa disapa Javir, ketertarikan pada pertanian tidak muncul begitu saja ketika dirinya menjadi mahasiswa.

Sebelum mengenal dunia kampus, Javir lebih dulu tumbuh di lingkungan pesantren. Ia merupakan alumni Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, Jawa Timur. Ketertarikannya pada pertanian justru muncul dari seorang guru, KH. Muhammad S.H., yang mengenalkannya pada seni merawat tanaman bonsai.

Dari sana, pandangannya tentang pertanian mulai berubah.

Pertanian tidak lagi sekadar soal tanah, tanaman, atau hasil panen. Ada proses merawat, memperhatikan, dan belajar memahami apa yang sedang tumbuh.

Ketertarikan itu kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor.

Namun, cerita Javir di kampus tidak berhenti di ruang kelas.

Suatu hari, ketika berjalan di sekitar belakang ruang jurusan, ia melihat beberapa bagian lahan kampus yang tidak terpakai. Lahan tersebut terlihat kotor, ditumbuhi semak dan tanaman liar.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya lahan kosong.

Bagi Javir, justru di situlah muncul sebuah pertanyaan: kenapa tidak dimanfaatkan?

Dari pertanyaan sederhana itu, muncul keinginan untuk mencoba sesuatu yang lebih nyata. Ia ingin belajar bertani bukan hanya dari teori perkuliahan, tetapi juga merasakan sendiri bagaimana mengelola usaha, menghadapi risiko, merawat tanaman, sampai berhadapan langsung dengan pasar.

Pada 5 Juni 2025, ketika memasuki semester dua, Javir mulai menjalankan gagasan tersebut dengan izin dan dukungan dari Ketua Jurusan Pertanian Polbangtan Bogor, Dr. Wahyu Trisnasari, S.ST., M.Si.

Nama usaha itu kemudian diberi nama Berkah Farm.

Berawal dari Obrolan dengan Teman

Javir sadar bahwa menjalankan usaha tani sendirian bukan perkara mudah. Ia kemudian mengajak Ferdi Ferdiansyah, teman satu angkatan sekaligus satu kelas di Polbangtan Bogor.

Ferdi memiliki pengalaman yang cukup dekat dengan dunia pertanian. Ia merupakan alumni SMK Pertanian dan berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang usaha tani.

Keduanya kemudian membicarakan rencana untuk memulai budidaya jamur tiram dan cabai.

Ada satu hal sederhana yang menjadi pemantik keberanian mereka.

โ€œKapan lagi kalau bukan sekarang?โ€

Bagi mereka, menjadi mahasiswa justru menjadi kesempatan untuk mencoba. Masih muda, masih bisa belajar, dan kalau gagal pun masih ada ruang untuk memperbaiki.

Pembagian tugas pun dibuat sederhana. Javir lebih banyak menangani manajemen, strategi, dan pengembangan usaha. Sementara Ferdi fokus pada pekerjaan teknis dan operasional budidaya.

Nama Berkah Farm dipilih bukan sekadar untuk menjadi nama usaha. Ada harapan agar usaha yang mereka jalankan bisa membawa kebermanfaatan dan kebaikan, bukan hanya menghasilkan keuntungan.

Belajar dari Kumbung yang Terbengkalai

Memulai usaha ternyata tidak semudah membuat rencana.

Ruang yang akan digunakan sebagai kumbung jamur dalam kondisi cukup memprihatinkan. Kotor, dipenuhi tanaman merambat, bahkan sebagian tanaman menjulur hingga ke bagian atap.

Mereka membersihkannya sendiri.

Setelah itu, mereka mulai memperbaiki ruang tersebut agar bisa digunakan untuk budidaya jamur tiram. Di lahan terbuka, pekerjaan lain sudah menunggu. Tanah dibersihkan, dicangkul, dibajak, kemudian dibuat bedengan untuk tanaman cabai.

Modal awalnya pun bukan berasal dari pendanaan kampus.

Mereka menggunakan uang pribadi yang disisihkan dari uang jajan.

Untuk jamur tiram, mereka bahkan belum memiliki pengalaman khusus. Pengetahuan awal banyak diperoleh dari berbagai tutorial di YouTube dan video pendek di media sosial.

Jamur tiram dipilih karena mereka melihat permintaannya cukup konsisten. Sementara cabai dipilih karena tantangannya.

Budidaya cabai dikenal tidak mudah. Hama dan penyakit bisa datang kapan saja, sementara hasil panen sangat bergantung pada kondisi tanaman.

Justru karena itulah mereka ingin mencobanya.

Kalau berhasil melewati tantangan cabai, mereka merasa akan mendapatkan pengalaman yang cukup untuk menghadapi komoditas hortikultura lainnya.

Tantangan pertama datang dari kumbung jamur.

Suhu Bogor yang cukup panas membuat mereka harus memperhatikan kelembapan dengan teliti. Kumbung tidak boleh terlalu kering, tetapi juga tidak boleh terlalu basah.

Setelah melalui proses perawatan, akhirnya jamur tiram pertama mulai tumbuh.

Bagi Javir dan Ferdi, panen pertama itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Untuk pertama kalinya, mereka melihat hasil dari sesuatu yang sebelumnya hanya mereka pelajari dari teori dan video.

Ketika Cabai Mengajarkan Arti Gagal

Cerita berbeda terjadi di lahan cabai.

Awalnya tanaman tumbuh dengan baik. Tanaman mulai besar dan memasuki masa berbuah. Harapan untuk segera memanen mulai terlihat.

Namun, ketika panen terasa semakin dekat, masalah muncul.

Serangan lalat buah datang dan menyebabkan kerusakan cukup berat. Tanaman cabai mengalami kegagalan panen selama kurang lebih satu bulan.

Di situ mereka mulai memahami bahwa bertani tidak hanya soal menanam dan menunggu.

Ada risiko yang harus diperhitungkan.

Mereka kemudian melakukan evaluasi dan memperbaiki penanganan tanaman. Perlahan serangan dapat dikendalikan.

Sampai akhirnya buah cabai merah pertama berhasil dipetik.

Pengalaman itu memberi pelajaran sederhana bagi mereka. Dalam usaha tani, mencegah masalah sejak awal bisa jauh lebih penting daripada mencari solusi ketika kerusakan sudah terjadi.

Setelah Panen, Masalah Berikutnya Adalah Pasar

Mereka kemudian menemukan bahwa menghasilkan produk pertanian ternyata baru separuh perjalanan.

Setelah panen, muncul pertanyaan berikutnya: mau dijual ke siapa?

Javir dan Ferdi mencoba menghindari ketergantungan pada tengkulak atau pedagang besar. Mereka memilih mendatangi calon pembeli secara langsung.

Untuk jamur tiram, mereka menyasar warung makan dan warteg.

Mereka mendatangi warung satu per satu, menawarkan jamur segar dan mencatat kebutuhan masing-masing. Setelah ada kesepakatan, Berkah Farm kemudian menyuplai jamur sesuai kebutuhan harian.

Untuk cabai, mereka mencoba menjalin kemitraan dengan warung ayam geprek.

Cara ini membuat mereka bisa lebih dekat dengan konsumen sekaligus mengetahui kebutuhan pasar secara langsung.

Namun, pasar kembali memberikan pelajaran yang berbeda.

Pernah suatu ketika produksi jamur tiram meningkat cukup banyak. Stok di kumbung melimpah, sementara kebutuhan dari mitra warteg sudah terpenuhi.

Daripada membiarkan jamur rusak, mereka membawa sebagian hasil panen ke Pasar Kota Bogor.

Malam itu menjadi pengalaman yang cukup berat.

Mereka berada di pasar dari sekitar pukul 20.00 sampai 00.00 WIB. Mereka berkeliling menawarkan jamur kepada pedagang, tetapi tidak mendapatkan pembeli karena pasokan jamur di pasar sedang banyak.

Empat jam berada di pasar tanpa hasil membuat mereka sadar bahwa produksi yang banyak tidak selalu berarti keuntungan yang lebih besar.

Kalau pasar tidak siap menerima produk, hasil panen justru bisa menjadi masalah.

Jamur Krispi dari Panen yang Tidak Terjual

Pulang dengan membawa jamur yang masih tersisa, mereka tidak ingin menyerah begitu saja.

Mereka mencoba mencari cara lain.

Jamur segar tersebut kemudian diolah menjadi jamur krispi dan dijual kepada teman-teman mahasiswa di asrama.

Ternyata responsnya cukup baik.

Dari situ muncul pengalaman baru bahwa produk pertanian tidak selalu harus dijual dalam bentuk segar. Ketika pasar untuk produk utama sedang penuh, pengolahan bisa menjadi salah satu jalan keluar.

Bagi Javir dan Ferdi, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Berkah Farm.

Mereka belajar bahwa bertani membutuhkan kemampuan membaca kondisi, bukan sekadar kemampuan menanam.

Berkah Farm Mulai Bertumbuh

Memasuki semester empat, Berkah Farm mulai berkembang.

Usaha yang awalnya hanya dijalankan oleh dua orang mahasiswa perlahan menjadi kelompok usahatani yang lebih besar. Populasi tanaman cabai juga meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan kapasitas awal.

Dengan bertambahnya skala usaha, pekerjaan pun semakin banyak.

Javir kemudian menyadari bahwa sebuah usaha tidak bisa terus bergantung pada orang yang sama. Regenerasi menjadi penting.

Pada akhir semester empat, ia membuka kesempatan bagi mahasiswa tingkat bawah untuk ikut bergabung.

Muhamad Razka dan Rifa Arya Ramadhan kemudian menjadi bagian dari Berkah Farm.

Keduanya mampu beradaptasi dengan cukup cepat. Kehadiran mereka membuat pekerjaan lapangan menjadi lebih terbagi. Diskusi dan proses belajar di dalam kelompok pun semakin berkembang.

Berkah Farm akhirnya tidak hanya menjadi tempat Javir dan Ferdi menjalankan usaha.

Tempat itu juga mulai menjadi ruang belajar bersama.

Lahan yang Dulu Penuh Semak Kini Jadi Kebun

Ada perubahan lain yang tidak kalah menarik.

Lahan yang dulu terlihat terbengkalai dan dipenuhi semak kini berubah menjadi area usahatani yang lebih tertata. Tanaman tumbuh, bedengan tersusun, dan aktivitas budidaya mulai terlihat setiap hari.

Perubahan tersebut kemudian menarik perhatian dosen dan civitas akademika Polbangtan Bogor.

Sejumlah dosen datang melihat langsung perkembangan Berkah Farm. Dukungan dan apresiasi dari lingkungan kampus menjadi tambahan semangat bagi mereka untuk terus menjalankan usaha tersebut.

Bagi Javir, mungkin bagian paling menarik dari perjalanan ini bukan hanya soal berapa banyak tanaman yang berhasil dipanen.

Tetapi tentang bagaimana sebuah lahan yang sebelumnya tidak banyak dilirik bisa menjadi tempat untuk belajar banyak hal.

Mulai dari menanam, merawat, gagal panen, mencari pembeli, menghadapi penolakan, mengolah produk, sampai belajar bekerja bersama orang lain.

Dari Kampus untuk Belajar Mandiri

Kini Berkah Farm terus dikembangkan.

Javir dan timnya ingin meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan mitra, dan mencari pasar yang lebih luas. Namun, mereka juga ingin mempertahankan satu hal yang sejak awal menjadi alasan Berkah Farm dibangun: sebagai ruang untuk belajar.

Bagi mereka, menjadi mahasiswa pertanian tidak harus berhenti pada teori di kelas.

Ada banyak hal yang baru bisa dipahami setelah turun langsung ke lahan.

Tanah yang keras, tanaman yang terserang hama, hasil panen yang tidak terserap pasar, hingga rasa senang ketika produk yang ditanam sendiri akhirnya dibeli orang lain.

Semua itu menjadi bagian dari proses.

Berkah Farm mungkin masih berada di tahap awal. Namun, dari sebuah lahan yang sebelumnya terbengkalai, Javir dan teman-temannya sudah menemukan satu hal penting: pertanian bisa menjadi ruang untuk belajar sekaligus membangun keberanian.

Dan mungkin, dari tempat-tempat kecil seperti inilah cerita tentang anak muda yang memilih masuk ke dunia pertanian akan terus tumbuh.

Penulis: Sandi Hermansyah



Attachment

No attachments available.

Comments

Copyright © 2026 Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor .