MAF Polbangtan Kupas Tuntas Biosecurity Peternakan untuk Lindungi Produksi Susu RI
Millenial Agriculture Forum Polbangtan Bogor membahas strategi biosecurity peternakan demi menjaga produksi susu nasional tetap aman.
Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kembali menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 21 dengan fokus membahas pentingnya biosecurity peternakan sebagai langkah strategis melindungi produksi susu nasional dari ancaman penyakit eksotik.
Kegiatan yang mengangkat tema “Kewaspadaan terhadap Ancaman Penyakit Eksotik dalam Rangka Mewujudkan Swasembada Daging dan Susu” itu diikuti mahasiswa, akademisi, serta stakeholder sektor peternakan dan pertanian.
Forum berlangsung interaktif dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah daerah, hingga praktisi industri peternakan.
Operation Director PT Fajar Taurus, Catur Nugroho Wicaksono, dalam pemaparannya menjelaskan penerapan biosecurity di peternakan sapi perah modern menjadi kunci utama menjaga produktivitas dan kesehatan ternak.
Menurutnya, ancaman penyakit eksotik dapat berdampak langsung terhadap produksi susu nasional apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Implementasi biosecurity harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengawasan lalu lintas ternak, sanitasi kandang, hingga pengendalian akses masuk ke area peternakan. Langkah ini penting untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, mengingatkan bahwa penyakit zoonosis masih menjadi ancaman global yang memerlukan kewaspadaan berkelanjutan.
Dalam materi bertajuk “Zoonotic Diseases, War Without Ending”, ia menegaskan bahwa penanganan penyakit hewan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat.
“Ancaman penyakit zoonosis tidak pernah benar-benar selesai. Karena itu, penguatan sistem kewaspadaan dini dan edukasi kepada pelaku peternakan menjadi sangat penting,” katanya.
Adapun Staf Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Sidho Ediyanto, memaparkan peran pemerintah daerah dalam penguatan pengawasan serta pencegahan penyakit hewan menular di wilayah peternakan.
Ia menyebut deteksi dini dan pengendalian cepat menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas sektor peternakan, terutama dalam mendukung target swasembada daging dan susu nasional.
Seperti diketahui, Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya menegaskan bahwa keberhasilan swasembada daging dan susu tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan menjaga kesehatan ternak dari ancaman penyakit menular dan eksotik.
“Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga oleh kemampuan kita menjaga kesehatan ternak. Pencegahan penyakit eksotik harus menjadi perhatian bersama agar target swasembada daging dan susu dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujar Amran.
Di sisi lain, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti selalu mengatakan generasi muda pertanian perlu dibekali wawasan terkait tantangan peternakan modern, termasuk ancaman penyakit eksotik.
Menurutnya, Millenial Agriculture Forum menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk memahami isu-isu aktual yang berpengaruh terhadap produktivitas dan keberlanjutan sektor peternakan nasional.
Senada, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menilai kegiatan tersebut penting dalam memperkuat kompetensi mahasiswa melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan industri.
“Mahasiswa perlu dibekali pemahaman komprehensif mengenai biosecurity, mitigasi penyakit, serta tata kelola peternakan modern agar mampu menjadi SDM pertanian yang adaptif dan profesional,” ungkapnya.
Wakil Direktur III Polbangtan Bogor, Rudi Hartono, menambahkan forum ini merupakan bagian dari komitmen Polbangtan dalam mencetak sumber daya manusia pertanian unggul yang siap menghadapi tantangan global di sektor peternakan.
“Melalui forum ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap ancaman penyakit eksotik yang dapat mengganggu keberlanjutan sektor peternakan,” kata Rudi.
Ia menegaskan, penguatan biosecurity dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan hewan sekaligus melindungi produksi susu nasional demi mendukung ketahanan pangan Indonesia.
Attachment
No attachments available.
Comments