Belajar Dari Lini Produksi: Mahasiswa Polbangtan Bogor Asah Keterampilan Meracik Pakan Konsentrat
Oleh: ALIFIO
Pembelajaran di bidang peternakan tidak berhenti di ruang kelas. Bagi mahasiswa semester 2 Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, pemahaman teori tentang nutrisi ternak diuji langsung melalui praktik di lapangan.
Pada Selasa, 28 April 2026, mahasiswa mengikuti praktikum pembuatan pakan konsentrat di Pabrik Pakan Jurusan Peternakan. Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Nutrisi dan Pakan Ternak ini dirancang untuk memberikan pengalaman nyata dalam menyusun ransum dan memproduksi pakan sesuai kebutuhan nutrisi ternak.
Sebelum memasuki area produksi, seluruh mahasiswa diwajibkan mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa wearpack, masker, dan sepatu boots sebagai bentuk penerapan keselamatan kerja. Mereka juga menerima lembar kerja yang berisi panduan praktikum, termasuk daftar bahan dan formulasi pakan yang akan diproduksi.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dibagi ke dalam dua kelompok, yakni kelompok pembuatan silase dan kelompok pembuatan pakan konsentrat. Kelompok pakan konsentrat mendapat pendampingan langsung dari PLP (Pranata Laboratorium Pendidikan) selama kegiatan berlangsung.
Tahapan praktikum diawali dengan pengenalan berbagai bahan penyusun konsentrat. Mahasiswa diperkenalkan pada onggok giling, dedak padi, pollard, bungkil sawit, bungkil kopra, kapur, garam, dan premix. Meski sebagian besar bahan memiliki bentuk yang serupa, yaitu berupa serbuk, mahasiswa tetap ditantang untuk mengenali perbedaannya melalui tekstur, warna, aroma, dan tingkat kepadatan. Latihan sederhana ini menjadi bekal penting untuk meningkatkan ketelitian sekaligus kemampuan identifikasi bahan pakan yang umum digunakan di lapangan.
Setelah memahami karakteristik setiap bahan, mahasiswa mulai memasuki proses produksi. Target yang harus dicapai adalah menghasilkan 300 kilogram pakan konsentrat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi potong di Teaching Factory (TEFA) Polbangtan Bogor.
Seluruh bahan ditimbang sesuai formulasi yang telah ditetapkan, yaitu onggok giling 60 kilogram, dedak padi 75 kilogram, pollard 37,5 kilogram, bungkil sawit 81 kilogram, bungkil kopra 36 kilogram, kapur 4,5 kilogram, garam 3 kilogram, dan premix 3 kilogram.
Suasana kerja sama tampak selama proses berlangsung. Setiap mahasiswa menjalankan peran yang berbeda, mulai dari menimbang bahan, memasukkan bahan ke dalam mesin mixer, hingga mengawasi proses pencampuran. Seluruh bahan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam mesin mixer berkapasitas 300 kilogram untuk dihomogenkan.
Idealnya, proses pencampuran dilakukan selama satu jam. Namun karena keterbatasan waktu praktikum, durasi tersebut disesuaikan menjadi sekitar 30 menit. Setelah pencampuran selesai, pakan yang telah jadi dikemas ke dalam karung dengan standar berat 30 kilogram per karung. Dengan total produksi 300 kilogram, seharusnya dihasilkan 10 karung pakan.
Di sinilah mahasiswa memperoleh pelajaran penting dari proses produksi nyata. Saat dilakukan pengecekan hasil akhir, karung terakhir hanya berisi sekitar 26 kilogram atau kurang 4 kilogram dari standar yang ditetapkan.
Temuan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi bersama. Mahasiswa diajak menelusuri berbagai kemungkinan penyebab berkurangnya hasil produksi, mulai dari kesalahan penimbangan, bahan yang tercecer selama proses berlangsung, hingga bahan yang tertinggal di dalam mesin maupun saluran pengangkut.
Berdasarkan pengamatan selama praktikum, terdapat indikasi bahwa sebagian bahan tidak seluruhnya masuk ke dalam mesin mixer karena tertahan pada saluran pengangkutan dan bagian penyaringan. Selain itu, kemungkinan adanya bahan yang tercecer juga turut memengaruhi hasil akhir produksi. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa faktor teknis dan tingkat ketelitian memiliki pengaruh besar terhadap efisiensi dalam proses pembuatan pakan.
Pembelajaran tidak berhenti pada proses produksi. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa mendapatkan tugas untuk menganalisis kandungan nutrisi setiap bahan pakan, meliputi protein kasar, lemak kasar, serat kasar, dan energi metabolisme. Mereka juga diminta menghitung biaya produksi berdasarkan harga bahan terkini serta memperkirakan harga jual pakan yang dihasilkan.
Melalui tugas tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa usaha peternakan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga memerlukan kemampuan analisis ekonomi agar usaha dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan.
Praktikum ini memberikan pengalaman langsung yang mempertemukan teori dengan kondisi nyata di lapangan. Mulai dari mengenali bahan, meracik formulasi, menjalankan proses produksi, hingga melakukan evaluasi hasil, seluruh tahapan menjadi sarana belajar yang berharga bagi mahasiswa.
โDari praktikum ini saya belajar bahwa hal kecil seperti ketelitian dalam menimbang bahan dapat berdampak besar pada hasil akhir. Proses ini bukan hanya tentang mencampur bahan, tetapi juga tentang memahami tanggung jawab dalam setiap tahapan kerja.โ
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa kualitas pakan tidak hanya ditentukan oleh formulasi yang tepat, tetapi juga oleh disiplin, ketelitian, dan kerja sama tim. Melalui kegiatan praktikum seperti ini, mahasiswa Polbangtan Bogor memperoleh bekal keterampilanyang relevan dan siap diterapkan dalam dunia peternakan yang sesungguhnya.
Attachment
No attachments available.
Comments