Panen Kacang Tanah Kini Tak Perlu Capek! Inovasi Mahasiswa Ini Pangkas Waktu hingga 79%
RILIS BPPSDMP – 31 Maret 2026 (HUMAS/225)
Bogor – Cara petani memanen kacang tanah perlahan mulai berubah. Jika dulu identik dengan pekerjaan berat dan memakan waktu lama, kini proses tersebut bisa dilakukan lebih cepat dan efisien berkat inovasi alat panen mekanis karya mahasiswa.
Adalah Irsyad Ginanjar, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, yang berhasil menciptakan alat panen kacang tanah tipe lifting mekanis. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas rendahnya efisiensi panen yang selama ini masih bergantung pada tenaga manual.
Berbeda dari metode konvensional, alat ini mampu menggabungkan dua proses sekaligus—mengangkat tanaman dan merontokkan hasilnya dalam satu sistem kerja terpadu. Hal ini membuat proses panen menjadi jauh lebih praktis dan hemat tenaga.
Dengan dukungan komponen seperti motor listrik 35 watt, sistem puli dan v-belt, serta rangka besi yang kokoh, alat ini dirancang tidak hanya kuat tetapi juga mudah dioperasikan di lapangan. Pendekatan rekayasa teknik modern yang digunakan membuatnya relevan untuk kebutuhan petani saat ini.
Hasil pengujian menunjukkan performa yang cukup menjanjikan. Alat ini mampu meningkatkan efisiensi kerja hingga 79 persen, sebuah angka yang menunjukkan bahwa mekanisasi sederhana pun dapat memberikan dampak besar terhadap produktivitas pertanian.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi seperti ini sangat penting dalam mendorong transformasi sektor pertanian.
“Modernisasi pertanian harus didukung dengan teknologi. Alat ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi bisa menekan biaya tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai bahwa kehadiran inovasi ini menjadi bukti kuat peran generasi muda dalam membangun pertanian masa depan.
“Inilah bentuk nyata kontribusi anak muda. Teknologi yang mereka hasilkan langsung menjawab kebutuhan petani di lapangan,” katanya.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto, menyebut inovasi ini sebagai bukti keberhasilan pendidikan vokasi dalam menjawab tantangan sektor pertanian. “Kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga menciptakan solusi nyata. Alat ini menjadi contoh konkret bagaimana inovasi lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan petani di lapangan,” jelasnya saat ditemui di sela-sela aktifitasnya Selasa (31/03/2026).
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin menekankan pentingnya pengembangan lebih lanjut agar teknologi ini bisa diadopsi secara luas.
Meski masih memiliki beberapa tantangan seperti peningkatan kestabilan alat dan penyempurnaan sistem perontokan, inovasi ini tetap menjadi langkah awal yang penting menuju mekanisasi pertanian yang lebih masif.
Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, inovasi sederhana seperti ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil—bahkan dari lahan kacang tanah.
Attachment
No attachments available.
Comments