News

Bukan Sekadar Mesin! Power Thresher Bikin Panen Padi Lebih Cepat dan Minim Susut

Bukan Sekadar Mesin! Power Thresher Bikin Panen Padi Lebih Cepat dan Minim Susut

RILIS BPPSDMP – 31 Maret 2026 (HUMAS/226)

BOGOR – Hamparan sawah di Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya kini tak lagi sepenuhnya diwarnai cara panen tradisional. Suara mesin perontok padi atau power thresher mulai mendominasi, menandai perubahan penting dalam praktik pascapanen petani.

Perubahan ini bukan sekadar soal penggunaan alat, melainkan langkah strategis untuk menekan kehilangan hasil panen yang selama ini kerap terjadi. Pada metode konvensional, kehilangan hasil saat perontokan padi tercatat berkisar antara 1,1 hingga 3,1 persen. Meski terlihat kecil, angka tersebut berdampak besar jika dihitung dalam skala luas.

Hadirnya power thresher membawa perbaikan signifikan. Teknologi ini mampu menekan kehilangan hasil hingga hanya sekitar 0,64–1,21 persen, sekaligus meningkatkan kecepatan kerja dan kualitas gabah yang dihasilkan.

Kajian yang dilakukan oleh Wahyu Nur Hamdhani, mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, menunjukkan bahwa tingkat adopsi power thresher di Cigalontang telah mencapai 46,81 persen, masuk dalam kategori cukup tinggi. Namun demikian, angka ini juga mengindikasikan masih besarnya peluang peningkatan pemanfaatan teknologi di tingkat petani.

Menurut Wahyu, keberhasilan adopsi teknologi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari karakteristik inovasi, ketersediaan sarana prasarana, hingga peran kelembagaan pertanian.

“Kajian ini tidak hanya memotret kondisi, tetapi juga mengidentifikasi faktor kunci yang menentukan keberhasilan adopsi teknologi di lapangan,” ujarnya, Selasa (31/03/2026).

Lebih dari itu, perubahan mulai terlihat dari pola pikir petani yang semakin terbuka terhadap inovasi. Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pengenalan alat, tetapi diperkuat melalui pelatihan, pendampingan, serta peningkatan akses terhadap teknologi dan infrastruktur.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya penguatan sektor pascapanen dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

“Kehilangan hasil panen harus ditekan semaksimal mungkin. Penggunaan alat seperti power thresher adalah langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani,” ujarnya.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai bahwa keberhasilan teknologi sangat bergantung pada pendekatan kepada petani.

“Kita tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan petani memahami manfaat dan cara penggunaannya. Pendampingan menjadi kunci,” jelasnya.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menambahkan bahwa kajian ini mencerminkan peran nyata pendidikan vokasi dalam menjawab kebutuhan di lapangan.

“Mahasiswa harus mampu menghadirkan solusi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi petani,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pengembangan inovasi.

“Adopsi teknologi membutuhkan proses berkelanjutan, mulai dari edukasi hingga evaluasi jangka panjang,” tuturnya.

Meski menunjukkan hasil positif, tantangan masih ada, terutama terkait ketersediaan alat, akses infrastruktur, dan peningkatan kapasitas petani. Namun, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan petani menjadi kunci untuk mempercepat transformasi ini.

Dari Cigalontang, sebuah pesan kuat muncul: inovasi tidak selalu berarti teknologi baru, tetapi bagaimana teknologi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal. Dari sawah inilah, masa depan pertanian Indonesia terus dibangun—lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Attachment

No attachments available.

Comments