Cerita Hidup dari Kebun Kopi yang Mengantarkan Langkah Ke Polbangtan Bogor
Hidup saya sebenarnya sederhana saja. Saya Jimmi Susilo, lahir dan besar di Pagaralam, dari keluarga petani kopi. Pagi saya hampir selalu sama—aroma kopi dari dapur dan ayah yang bersiap berangkat ke kebun. Dari hal kecil seperti itu, saya pelan-pelan belajar tentang hidup. Tidak ada yang instan, semua dijalani satu per satu. Dari situ saya mulai paham kalau hidup itu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang bisa tetap jalan walaupun pelan.
Sejak kecil, kebun kopi sudah jadi bagian dari keseharian saya. Saya sering ikut ke kebun, atau sekadar melihat ayah bekerja. Kadang panas, kadang hujan, dan hasilnya juga tidak selalu bagus. Tapi ayah tetap menjalaninya tanpa banyak keluhan. Dari situ saya mulai berpikir, ternyata pertanian itu bukan hal sepele. Banyak orang hidup dari situ, tapi sering juga kurang diperhatikan.
Dari situ juga muncul keinginan saya untuk belajar lebih jauh. Sekarang saya kuliah di Polbangtan Bogor, di Prodi Agribisnis Hortikultura. Jujur, awalnya saya juga belum sepenuhnya paham akan seperti apa ke depannya. Tapi saya tahu, saya ingin tetap di jalur yang dekat dengan kehidupan saya sejak kecil. Saya ingin belajar bukan cuma soal menanam, tapi juga bagaimana hasil pertanian bisa punya nilai lebih dan tidak selalu bergantung pada keadaan.
Saya cukup bersyukur bisa sampai di titik ini. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama, dan saya sadar perjalanan saya juga tidak lepas dari usaha orang tua. Kadang kalau lagi di kelas atau belajar, saya suka ingat kebun di rumah. Rasanya seperti diingatkan lagi kenapa saya harus serius menjalani semua ini.
Ke depan, saya belum tahu semuanya akan seperti apa. Tapi saya punya harapan, semoga apa yang saya pelajari sekarang bisa benar-benar berguna. Tidak cuma untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang lain, terutama di bidang pertanian. Kalau bisa, saya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar, walaupun dimulai dari hal kecil—seperti kebun kopi tempat saya dulu belajar banyak hal.
Penulis: Jimmi Susilo
Attachment
No attachments available.
Comments