News

Detik-detik Jelang Swasembada, Terpecahkannya Rekor Demi Rekor Pangan

Detik-detik Jelang Swasembada, Terpecahkannya Rekor Demi Rekor Pangan

Dalam hitungan jam Cadangan Beras Pemerintah (CBP / Stok) akan mencapai angka Empat juta ton, Terbesar sepanjang sejarah negara ini Merdeka. Rekor terakhir yang pernah dicapai adalah di Angka tiga juta ton pada tahun 1997 dan 1984. Pada tahun 1997 populasi penduduk Indonesia sebesar 204 juta, sedangkan pada 1984, setahun sebelum meraih Agricola Medal pertama kali, populasinya hanya 162 juta, 57% dari jumlah penduduk saat ini. Suatu capaian luar biasa, mencukupi kebutuhan 282 juta penduduk dengan tetap menjaga ketersediaan stok di gudang Bulog yang setiap saat dapat digunakan untuk mengontrol lonjakan harga pangan di tengah Masyarakat.

Di periode ketiga Andi Amran Sulaiman menjabat sebagai Menteri Pertanian di Kabinet Merah Putih besutan Prabowo Subianto ini, rekor CBP 1984 dan 1997 tersebut dipecahkan pada 22 April 2025. Hari – hari selanjutnya dipenuhi dengan pemecahan rekor dari hari sebelumnya, angka 3 Juta Ton tersebut terus menanjak naik hingga kini mencapai 4 Juta Ton. Dan akan terus meningkat sampai saatnya dikeluarkan kebijakan melepas CBP tersebut baik untuk pengendalian harga, bantuan dan lainnya. Di saat beberapa negara lain seperti Filipina, Jepang dan Malaysia mengalami krisis beras karena kurangnya stok yang berakibat melonjaknya harga, Indonesia justru dengan tenangnya menyatakan tidak akan impor tahun ini.

Bahkan salah satu anggota Parlemen Malaysia menyarankan agar belajar ke Menteri Pertanian Indonesia. Rekor ini tak dicapai seketika, tapi butuh perjuangan dan pengorbanan yang tak terkira. Dimulai dengan bersih-bersih di Kementan, komitmen anti korupsi, semua yang mengkhianati petani disikat satu-satu. Meritokrasi diterapkan, “hasil kerja yang menentukan Nasib anda” tegasnya. Penggunaan kalender hitam putih, tak ada tanggal merahnya, setiap hari dipenuhi kerja, tak di kantor, di rumah maupun di lapangan. Bulan Ramadhanpun tak mengurangi aktifitasnya, operasi pasar murah, sidak pangan sampai kunjungan lapangan tetap normal.

Vertigo sampai menyerang dirinya setelah Idul Fitri, dokter ahli didatangkan ke kediaman, pakar fisioterapi, sampai terapi sunnah seperti bekam dan fashdu dilakukan. Dirinya dalam tekanan, target yang semula Empat Tahun, berubah jadi Tiga, lalu setahun. Tapi Ketua Umum IKA Unhas ini bertekad, semakin besar tekanan, akan semakin berkualitas seseorang, “Berlian lahir dari tekanan yang sangat tinggi” ujarnya dengan penuh semangat.

Dukungan penuh dari Presiden, berbagai Inpres dikeluarkan, demi melancarkan cita-cita mulia ini, pengembalian Penyuluh ke Pusat, Anggaran Lahan dan Irigasi sampai penghormatan yang diberikan di hadapan para rektor saat berbuka puasa semakin membuatnya tertekan. “Jangan sampai penghormatan tersebut ditarik kembali karena capaian yang tidak sesuai harapan” tukas Owner Tiran Group ini. Ada banyak yang berguguran dalam perjuangan ini, mulai dari yang korban jabatan, dimutasi bahkan dipecat.

Ada juga yang tertimpa musibah dan kecelakaan saat bertugas di Sukabumi, bahkan ada penyuluh yang wafat terlindas kendaraan berat saat pulang dari apel siaga di Kalimantan Selatan, Hardianto Namanya, Kepala Badan Penyuluh Pertanian Kusan Hulu. Banyak lagi lainnya, pengorbanan fisik dan psikis dari seluruh staf Kementan. Hilangnya waktu kebersamaan dengan keluarga karena berbulan-bulan di tempat penugasan. Air mata yang mengalir ketika ditegur karena capaian yang masih minim. Semua itu akan terasa manis saat kalimat “Alhamdulillah, kami sampaikan, bahwa saat ini swasembada telah kita capai” diucapkan oleh Presiden Prabowo esok hari. Kolaborasi yang apik dengan TNI, Polri, Kejaksaan, Perguruan Tinggi dan seluruh aspek lainnya juga merupakan pendukung utama tercapainya swasembada ini.

Peningkatan kuota pupuk subsidi dan penyederhanaan sistem distribusi mengurangi kendala yang dihadapi petani saat akan memulai tanam. Bantuan pompanisasi dan alat mesin pertanian semakin memudahkan dalam mengolah lahan dan bercocok tanam serta panen. Kehadiran Negara bagi petani semakin sempurna dengan ditetapkannya harga Gabah 6.500 rupiah perkilogram. Semangat petani untuk langsung mengolah kembali setelah panen berkobar, belum sampai Gabah mereka ke penggilingan, sudah bergerak traktor membajak di sawah membolak-balikkan tanah agar kembali subur meskipun telah digarap berkali-kali.

Sektor pertanian pun menjadi jawara baru penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan pertama, 10,25% nilainya. Capaian demi capaian, rekor demi rekor, ibarat Cahaya di atas Cahaya / Nuurun ala Nuur (Surah Nuur [24] : 35). Pencapaian swasembada ini tak mungkin dicapai tanpa adanya tuntunan dan restu dari Sang Maha Cahaya, jalannya harus di bawah Cahaya perencanaan yang matang, dikerjakan wajah yang penuh cahaya karena senyum, hati yang bercahaya karena Ikhlas dan hasilnya pun dinikmati dengan Cahaya Syukur.

Maka saat ini adalah waktu yang paling tepat bagi seluruh insan pertanian untuk sujud Syukur, seraya mengucapkan Tahlil, Tahmid, Takbir dan Tasbih. Dengan Syukur kita mengucapkan terimakasih pada Allah atas capaian ini, dan sesuai janjinya, jika kita bersyukur maka pasti akan ditambahkan, maka semoga setelah swasembada, janji lumbung pangan dunia pun dapat tercapai. Aamiin yaa rabbal aalamiin. (*)


Attachment

No attachments available.

Comments